Belajar dari Piala Dunia, Cara Capai Tangga Juara

13:46 PM - 14 Jul 2018
Belajar dari Piala Dunia, Cara Capai Tangga Juara
Belajar dari Piala Dunia, Cara Capai Tangga Juara Demam piala sepak bola masih melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Rasanya tak bisa menghindar dari berita maupun pernak-pernik seputar piala dunia 2018. Ada yang gembira dikala tim kesayangannya menang, ada yang larut dalam kekalahan ketika tim pujaannya kalah. Bagi yang tim kesayangannya kalah biasanya beralih ke tim lain yang masuk babak selanjutnya dengan harapan bisa mengalahkan kesebelasan yang pernah mengalahkan tim kesayangan atau menjadi penonton yang hanya sekedar menonton. Itulah sepak bola ! Berbicara sepakbola sama saja membicarakan satu tim yang berisi sebelas orang yang bermain diluar dari pemain cadangan, pelatih dan tim official serta manajemen. Sepakbola tidak mengandalkan satu orang atau sebagian pemain, tetapi seluruh lini atau lapisan menjadi penting untuk bekal kemenangan. Mulai dari kiper, pemain belakang, pemain tengah, pemain penyerang atau ujung tombak. Seperti yang sudah diulas di atas bahwa sepak bola merupakan olahraga tim bukan mengandalkan personal. Contoh yang agak miris adalah kejadian di piala dunia 2018 bahwa ada 15 negara yang memiliki pemain top dunia absen alias tidak ikut bahkan ada yang pernah juara dunia. EKUADOR, Skotlandia, Turki, Republik Ceko, Pantai Gading, Kamerun, Wales, Amerika Serikat, Republik Irlandia, Yunani, Ghana, Bosnia, Chile, Belanda, Italia adalah negara kurang beruntung kali ini. Buat yang ingin ulasannya bisa simak di link ini http://manado.tribunnews.com/2018/05/30/punya-pemain-top-15-negara-yang-absen-di-piala-dunia-2018-ada-yang-pernah-juara Negara-negara tersebut diatas masing-masing memiliki pemain yang memiliki kualitas dan merumput di liga papan atas internasional. Sebut saja Italia dengan Raihan gelar juara dunianya dan terakhir Runner Up ketika Spanyol Juara 2010 pun tak masuk. Apa yang terjadi ? sekali lagi perlu diingat adalah sepak bola adalah olahraga tim tidak mengandalkan pamor, skill perorangan, saling ketergatungan dan tentunya menjalankan perannya sesuai TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi). Sahabat SCC dimanapun berada, ada pertanyaan menarik dari hasil penyisihan yang sudah masuk babak final, yaitu mengapa Kroasia ke Final ? mungkin jika pertanyaan itu ditujukan ke Perancis akan keluar jawaban biasa saja karena Perancis negara yang memiliki tradisi dan semangat Juara. Ah sudahlah kalo begitu sedikit kita lihat ada apa dengan Kroasia. Kroasia memiliki penjaga mistar gawang yang berintegritas dan super dalam mengawal tugasnya. Danijel Subasic kiper klub AS Monaco dengan beberapa terjangan penyelamatannya sangat membuat kesal dan melemahkan mental tempur lawan. Disamping itu penyerang terus konsisten melakukan aksi-aksi yang membuat lawan terus berjaga, sebut saja Ivan Perisic dan Mario Mandzukic. Mereka berdua telah mencetak 50 gol dalam 156 pertandingan timnas diluar hitungan assist gol yang mereka lakukan. Menariknya para pemain timnas Kroasia rata-rata memainkan 41 pertandingan tiap pemain. Pengalaman yang sungguh menunjang Kroasia menuju tangga juara karena bangunan komunikasi dan psikologi yang selaras dan tersaji dalam setiap pertandingan. Hal ini tentunya ditopang juga oleh para pemain yang tersebar di berbagai liga besar sehingga dari semuanya menjadi suatu ramuan yang pas dan layak menjadi juara. Jikapun Kroasia hanya runner up nantinya, setidaknya hasil yang dicapai adalah maksimal pencapaian dan jadi suatu nilai lebih dimata negara lainnya. https://www.bola.com/dunia/read/3585029/4-alasan-timnas-kroasia-berpeluang-juara-piala-dunia-2018/page-5 Kisah perjuangan dan pencapaian Kroasia di Piala Dunia Sepakbola 2018 sangat menginsipirasi terhadap suatu pencapaian. Begitu juga dengan para pejuang SCC, adakah yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya topangan kawan maupun Divisi lain ? jawabannya adalah tidak. Lihat saja Danijel Subasic dengan konsistensi kawal gawangnya, jikapun dia seorang kiper terbaik dalam menjaga gawangnya tentu tidak akan menang jika penyerang tumpul atau tidak melakukan tembakan gol ke gawang lawan. Semua lini atau lapisan dalam sepakbola sangat mirip sekali dengan sistem kerja dan pencapaiannya dengan meninggalkan ego dan keakuan. Akhirnya segala capaianpun bisa dinikmati bersama dengan tak mengingat prosesnya. Baiklah para pejuang SCC dimanapun berada, sekian dahulu bulletin edisi I Juli 2018 kali ini. Semoga terus semangat dan bisa bersinergi layaknya sebuah tim besar yang sedang mencapai tangga juara. Semangat YEP !!! (Isk-MC)
Bagikan: