IGI : Kecerdasan Finansial Guru Diasah melalui PelTek Bersama HIQ Management

14:25 PM - 31 Jan 2019
IGI : Kecerdasan Finansial Guru Diasah melalui PelTek Bersama HIQ Management

JAKARTA – Kata Guru, siapa yang tak mengenalnya dan siapa yang ingkari peran dan fungsinya untuk bangsa dan negara Indonesia dan juga dunia. Jelas guru adalah jembatan ilmu bagi kita semua dalam mengenal ilmu pengetahuan.

“ Kerja seorang guru tidak ubah seperti seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah”

Abu Hamid Al Ghazali, Filsuf dari Persia 1058-1111

IGI (Ikatan Guru Indonesia) bersama HIQ (holistic Investment Quotient) Management sebagai mitra penggerak kecerdasan finansial melakukan dalam kegiatan Peltek (Pelatihan Teknis) bersama para guru di Pusat Pengembangan Kompetensi Pendidik, Tenaga Kependidikan dan kejuruan (P2KPTK2) Jakarta.

Tujuan kegiatan ini jelas meningkatkan kompetensi para guru dalam kecerdasan finansial dan berinvestasi dalam bentuk aset.

Sebagai wadah resmi, IGI sangatlah aktif dan strategis dalam berbagai kegiatan pelatihan para guru terutama upaya peningkatan kompetensi

“Ikatan Guru Indonesia memang berkonsentrasi di kompetensi guru, jadi banyak pelatihan-pelatihan yang kita buat dan sudah banyak berjalan selama ini.  Kita bertemu dengan HIQ kali ini lebih kepada upaya membangun kesadaran tentang pengelolaan penggunaan keuangan bagi para guru” Kata Muhammad Rahim Ramli Ketua IGI yang akrab disapa Ramli di Jakarta membuka wawancara dengan Media Centre SCC (29/01)

Seperti diketahui bahwa guru nerupakan aset bangsa yang juga semestinya mendapatkan perhatian lebih. Bagaimana caranya? Sebab perlu cara yang efektif selain guru juga bisa terus fokus dengan tugasnya sehari-hari dengan pendapatan yang tentunya juga bisa menutup kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan masa depan.

 “Kita harapkan guru-guru punya kemampuan pengelolaan keuangan hingga mereka di masa depannya bisa lebih tenang selain punya pensiun juga punya sesuatu yang lain (aset). Profesi guru ada yang ASN (Aparatur Sipil Negara) dan bukan, namun mereka semua adalah guru. Kita berharap yang bukan ASN memiliki kemampuan mengelola keuangannya dengan baik juga” Kata Ramli

Tidak semua pendapatan guru merata, masing-masing daerah berbeda dan tentunya disesuaikan dengan kebijakan daerah. Hal inilah yang tentunya menjadi pemikiran bersama untuk bisa menjadi solusi terbaik bagi guru terutama mengenai kesejahteraan dan kemampuan mengelola keuangan dengan cara memiliki aset Bersama.

“Kesejahteraan guru di Jakarta sudah sangat baik. Guru yang non PNS pun yang statusnya tidak tetap di Pemprov  punya pendapatan yang paling tinggi di Indonesia. Kita berharap pelatihan ini bisa merubah kesadaran para guru”, Kata Ramli.

Target Peltek adalah meningkatkan kecerdasan finansial para guru di Jakarta mencapai 93.000 itu belum termasuk yang dibawah guru-guru dibawah Kemenag.

“Total guru di Jakarta 93.000 lebih itu target Peltek, mulai guru Paud sampai SMA. Pelatihan ini adalah bagian pembangunan kepercayaan juga dikalangan guru atas kesadaran tentang kecerdasan finansial bersama HIQ ” kata Ramli

Harapan atas kegiatan ini juga menumbuhkan optimisme bagi para guru untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada guna peningkatan kesejahteraan yang lebih baik lagi.

 “Harapan kita adalah perubahan pola pikir para guru, mereka harus mempersiapkan sesuatu yg tidak terduga di kemudian hari . kalau pensiun pasti, tetapi masa setelah pensiun kan tidak pasti seperti ada kebutuhan yang lebih besar lagi. Disini manajemen keuangan menjadi kunci penting” Pungkas Ramli menutup wawancara dengan Media Centre SCC.

Motivasi Menumbuhkan kesadaran

Di Kesempatan yang sama tim Media Centre SCC  juga menemui Ira Deviani yang juga motivator nasional dan terlibat langsung dalam Peltek Bersama IGI.

Ira Deviana mengatakan bahwa kegiatan pelatihan teknis untuk kecerdasan finansial untuk para guru ASN yang dilaksanakan Januari 2019 untuk DKI Jakarta. Total rencana 93.000 menjadi target peserta pelatihan.

Ini adalah bukan yang pertama sebab sebelumnya HIQ sudah melakukan kegiatan yang sama dengan para guru di Bekasi dengan total jumlah peserta 10 ribu guru dan memiliki “output” memiliki aset vertical parking di Depok”, Kata Ira membuka wawancara.

Memotivasi setiap orang dibidang apapun  yang pertama adalah menumbuhkan kesadaran . Tidak mungkin orang paham dan melakukan jika kesadarannya belum tumbuh. Maka pelatihan teknis ini lebih kepada mengguggah kesadaran bahwa posisi menjadi seorang guru saat ini sebagai pendidik apakah dititik itu saja atau tidak ada lagi sendi kehidupan yang ingin diraih. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pola hidup atau gaya hidup.

 

“Gaya hidup tidak hanya menyangkut substansi seorang guru , disana juga ada ibu rumah tangga, generasi muda dan masyarakat umum . Gaya hidup inilah yang juga menimbulkan dampak-dampak  berikutnya seperti korupsi, narkoba , radikalisme. Itu sebenarnya adalah bagian kemarahan akibat kesenjangan ekonomi,” Kata Ira

Ira Juga menambahkan bahwa dimasa globalisasi materi sangat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat luar biasa

“ Di masa globalisasi ini, dalam ilmu teori sosial pembangunan dikatakan bahwa dominasi ekonomi terhadap sosial politik budaya bahkan ideologi bisa kandas jika materi mampu membeli itu semua. Membangun kesadaran adalah bagian solusi   karena ini adalah sebuah paradigma membangun kesadaran maka hal ini membutuhkan motor penggerak”Tambah Ira.

 Target Peningkatan kecerdasan finansial yang direncanakan adalah 1 juta ASN, sebelumnya sudah banyak masyarakat yang sudah sadar memiliki asset  atau berinvestasi tetapi karena belum digerakan bersama-sama belum terasa gaungnya. Ira mengatakan bahwa edukasi ini hanya ingin memunculkan gerakan ini agar masyarakat tahu bahwa salah satu penyebab bangsa ini terpuruk adalah gaya hidup.

Kondisi kesejahteraan guru menjadi kerja besar bagi HIQ sebagai mitra dalam peningkatan kesejahteraan para guru dalam bentuk edukasi dan pelatihan kecerdasan finansial.

“Saya berharap para guru terjamin masa depannya karena mereka adalah pendidik anak bangsa pembela tanah air. Kita tidak hanya menuntut mereka bekerja baik tetapi juga mereka bisa bekerja baik kalau kebutuhan mereka terpenuhi. Kalau berharap kepada gaji, tentu kita juga harus memberikan pendidikan tentang kemandirian dari guru itu sendiri bahwa setelah gaji tunjangan daerah atau sertifikasi yang diperoleh bisa merubah gaya hidup, mulai menabung, tabungan itu bukan untuk dipakai untuk bisnis tapi untuk membelikan aset secara bersama”Pungkas Ira. (Isk/Togi/MCDC-CC)

Bagikan: